Malala Yousafzai, yang lahir pada 12 Juli 1997 merupakan seorang murid sekolah dan aktivis pendidikan di Pakistan, tepatnya dari Kota Mingora di Distrik Swatt. Ia menyuarakan hak-hak pendidikan untuk perempuan di Lembah Swatt, yang mana Taliban melarang anak perempuan untuk bersekolah.
Dimulai saat Malala berumur sebelas tahun, ia menuliskan diarinya dengan nama samaran di blognya tentang kekejaman kelompok Taliban, kelompok islam radikal yang sering memaksakan pendapatnya dengan kekerasan. Ia menuliskan pandangannya tentang kesetaraan pendidikan untuk kaum perempuan. Keberaniannya dalam menulis berkat bimbingan ayahnya yang juga penyair, pemilik sekolah dan aktivis pendidikan. Ayahnya menjalankan beberapa sekolah yang dinamai Khushal Public School. Meskipun Malala mengaku ingin jadi dokter, Ayahnya mendorongnya untuk menjadi politisi.
Karena keberaniannya, pada tahun 2011, pemerintah Pakistan memberikan hadiah perdamaian nasional sebesar $10, 500 (kurang lebih 100 juta rupiah). Ia pun dinamakan sebagai pemenang International Children’s Peace Prize yang diberikan pemerintah Belanda tahun 2011.
Kisah mengharukan dari seorang Malala terjadi pada 9 Oktober 2012. Saat Malala berada di dalam bis sepulang sekolah, tiba-tiba kelompok bersenjata Taliban menyasarkan satu peluru di pelipis kirinya dan satu peluru lagi di lehernya. Sebelum akhirnya dilarikan ke Inggris untuk dirawat di rumah sakit di Birmingham, Malala sempat dirawat di Pakistan. Aksi penembakan ini mendapat kecaman dari 50 ulama di Pakistan.
Pada 12 Juli 2013, Malala berpidato di hadapan Forum Majelis Pemuda di Markas Besar PBB, New York. Ia berpidato tentang tuntutannya terhadap hak perempuan, perlawanan terhadap terorisme dan kebodohan. Ia mengatakan tidak akan diam menghadapi teroris dan peristiwa penembakan yang menimpa dirinya tidak akan mengubah semangatnya untuk terus memperjuangkan hak pendidikan untuk perempuan. Ini pidato pertamanya di depan umum pasca penembakan. Forum tersebut dihadiri oleh ribuan pelajar dari seluruh penjuru dunia dan mendapat sambutan tepuk tangan yang meriah.
Malala Yousafzai yang kala itu mengenakan jilbab merah muda dan syal yang dimilik oleh Pemimpin Pakistan yang terbunuh, Benazir Butto, mengatakan tidak membenci tentara Taliban yang telah menembaknya dan tidak akan melakukan balas dendam.
"Saya ingin pendidikan bagi anak laki-laki dan perempuan para anggota Taliban dan teroris dan ekstremis," katanya.
“Mereka menembak teman-teman saya juga. Mereka kira peluru akan membungkam kita. Tapi mereka gagal dan dari kebungkaman, kini muncul ribuan suara.”
“Para teroris berpikir mereka bisa mengubah tujuan dan ambisi saya, tapi tidak ada yang berubah dalam hidup saya kecuali ini: kelemahan, rasa takut dan rasa putus asa telah mati.”
Pada kesempatan itu Malala memberikan petisi yang ditandatangani empat juta orang yang mendukung 57 juta anak yang belum bersekolah kepada Sekjen PBB, Ban Ki Moon. Petisi tersebut berisi seruan untuk para pemimpin di dunia untuk mendanai guru, buku, dan sekolah serta mengakhiri perburuhan anak, pernikahan terlalu muda dan penyelundupan anak. Ban Ki Moon menyatakan komitmen PBB untuk member kesempatan anak-anak untuk bersekolah.
Dia telah dinobatkan sebagai salah satu orang paling berpengaruh pada tahun 2013 oleh Majalah Time dan dikabarkan mendapak kontrak senilai 3 juta dolar AS untuk sebuah buku mengenai dirinya. Kini, Malala Yousafzai telah menjadi bintang global dan menjadi salah satu kandidat untuk mendapat Nobel Perdamaian.
Semoga perjuangan Malala dalam memperjuangkan hak-hak pendidikan untuk anak tidak hanya menginspirasi anak-anak di seluruh dunia untuk giat bersekolah tetapi juga menginspirasi siapa saja di dunia ini yang peduli terhadap pemenuhan hak-hak anak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar