Senin, 23 Juni 2014

Resensi Novel Andai Kau Tahu

Ketidaksempurnaan Itu yang Membuat Kita Ada

Judul : Andai Kau Tahu
Penulis : Dahlian
Editor : Yuliyya Febria
Penerbit: GagasMedia
Cetakan: I, 2013
Tebal : vi + 366 halaman
ISBN : 979-780-613-8

Andai Kau Tahu merupakan novel keenam Dahlian. Seorang penulis novel bergenre komedi, lalu mencoba banting setir menjadi genre mainstream romance. Novel ini menyusul keberhasilan beberapa novel sebelumnya yaitu Promises Promises dan Menunggu yang merupakan karya GagasDuet bersama dengan Robin Wijaya.
Seperti biasa, gaya Dahlian yang khas dalam mengemas sebuah cerita cinta tetap dapat kita temui pada Andai Kau Tahu. Tetap dengan gayanya yang santai, mengalir dan mendetail di tiap kalimat yang ada. Tak beda dengan Promises Promises, kali ini studi profesi Dahlian terlihat cukup untuk menggambarkan dengan jelas siapa tokoh yang berperan. Novel ini menyajikan romantisme cinta perjodohan yang menggebu dengan satu tokoh telah mengetahui siapa yang dijodohkan sedangkan tokoh lain tidak mengetahuinya. Membaca novel ini membuat kita ingin berlama-lama di halaman yang sama untuk menikmati tiap kalimatnya. Namun, tak bisa berhenti untuk tidak membuka lembaran berikutnya.
Andai Kau Tahu menghadirkan sosok Tania sebagai gadis berjiwa bebas dan keras. Diimbangi oleh sosok Reza, seorang dokter bedah saraf yang seakan tak memiliki suatu celah keburukan dalam dirinya. Kebayang tidak, dokter se-cool Reza berbincang dengan gadis cantik secerewet Tania. Bagaimana cerita ini dapat mengalir dengan segala kekurangan dan kelebihan tokoh dalam bingkai perjodohan?! Perjodohan yang disetujui Reza, namun tidak bagi Tania!
Di awal cerita, tergambar sosok Tania sebagai gadis ceroboh yang tidak kenal takut saat menabrak mobil seorang pria. Mahasiswi satu ini begitu keras menentang usul ayahnya perihal perjodohan dengan seorang dokter anak dr Mahendra. Tania telah memilih Hendrik vokalis band yang tentu saja ditolak mentah-mentah oleh sang ayah. Tak sanggup lagi berdiri berseberangan dengan sang ayah, Tania memilih hengkang dari rumah menuju rumah Hendrik. Entah mengapa sambutan Hendrik tak seramah biasanya. Belakangan Tania tahu bahwa Hendrik menjalin affair dengan Mona.
Merasa disakiti, Tania pergi menggelandang ke mall yang ternyata mempertemukan dirinya dengan Reza yang menabrak mobilnya di awal cerita. Sebagai ganti rugi kerusakan mobil, Reza dengan bijaksana dan berwibawa mempersilahkan Tania menggunakan fasilitas apartemen dan kartu kreditnya. Meski tinggal satu atap bukan berarti Tania serta merta jatuh hati pada sosok cool Reza, terlebih karena Reza juga seorang dokter. Tania masih secara diam-diam menemui Hendrik di kafe.
Hingga akhirnya perlahan Reza bersikap manis pada Tania. Sedih sering kali menghinggapi Reza, mengetahui sang calon istri masih menyimpan rasa pada Hendrik. Namun, tanpa diketahui Reza, Tania pun kini mulai hambar rasa pada Hendrik yang justru kini berlari mengejar cinta Tania kembali setelah mengetahui Tania bersama laki-laki lain. Tania mulai menemukan kenyamanan berada di dekat Reza hingga menafikan kenyataan bahwa Reza adalah seorang dokter.
Disaat Hendrik benar-benar telah menghilang dari hidup Tania, mereka berdua menjalani romantika cinta setiap harinya dengan mulai belajar menerima kurang dan lebihnya pasangan. Disaat ulang tahun Tania, Reza memberanikan diri melamar Tania. Betapa senangnya Tania hingga keeseokan harinya saat ia akan memberi tahukan kabar ini pada ayahnya, Tania mendengar percakapan antara Reza dan ayahnya. Kesalah pahaman pun terjadi. Tania memutuskan hubungan dengan Reza dan terpaksa kembali ke rumah.
Hingga hati Tania tergerak untuk hadir pada acara anniversary dr Mahendra. Tania yang menyimpan rindu pada Reza merasa tak berdaya melihat Reza berbincang akrab dan terlihat mesra dengan seorang gadis cantik. Mendengar suara gelas pecah itupun Reza bergegas mengejar Tania ke tepian pantai. Dijelaskannya semua kesalah pahaman yang terjadi hingga Tania yang pada dasarnya masih mencintai pria itupun luluh kembali ke pelukannya. Mereka menikah, tetap dilingkupi nuansa romantic bahkan saat telah memiliki seorang putra.
Novel Dahlian satu ini mampu membuat kisah romantis yang mengalir, selalu hadir di tiap gesture tubuh dan pekataan namun tidak terkesan berlebihan. Yang paling penting adalah penyampaian detail latar dan karakter tokoh yang membuat pembaca seakan menjadi orang ketiga langsung dalam cerita. Beberapa bagian dari novel ini memang terdapat peristiwa yang terhitung ‘terbuka’ dan ‘berani’. Untuk itu, disarankan pembaca novel ini adalah remaja usia tujuh belas tahun ke atas.
Pada akhirnya, novel ini mengajarkan pada kita bahwa tak ada yang sempurna. Justru karena ketidak sempurnaan itulah tidak ada aku ataupun kamu melainkan kita. Karena kelebihan kita menutupi kekurangan yang ada pada diri kita. “On our own, each of us is imperfect, But together, we complete each other.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar